Sejarah dan Asal-Usul Gerebeg Abug Pondok Karya

 


Gerebeg Abug Pondok Karya adalah sebuah tradisi kultural yang lahir dari rahim kreativitas dan kesadaran budaya masyarakat di Kelurahan Pondok Karya, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan. Tradisi ini mengawinkan esensi ritual syukur Nusantara dalam bentuk sedekah bumi dengan kearifan kuliner lokal Betawi, yaitu kue abug.

Latar Belakang dan Inisiasi (Tahun 2024)

Tradisi ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 2024. Kelahirannya diinisiasi oleh gagasan kolektif Panitia Kenduri Festival, sebuah wadah pergerakan pemuda, pegiat budaya, dan tokoh masyarakat setempat yang berkomitmen merawat akar tradisi di tengah derasnya laju modernisasi sub-urban Tangerang Selatan.

Melihat lanskap sosial Pondok Karya yang semakin urban dan heterogen, Panitia Kenduri Festival merancang sebuah peristiwa budaya yang mampu melebur sekat-sekat sosial tersebut. Terpilihlah konsep "Gerebeg"—prosesi mengarak gunungan yang kemudian dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol keberkahan. Berbeda dengan gerebeg pada umumnya yang menggunakan hasil bumi mentah atau gunungan padi, tradisi ini secara khusus menggunakan Kue Abug sebagai elemen utamanya.

Filosofi Kue Abug dalam Sedekah Bumi

Pemilihan kue abug sebagai ikon utama sedekah bumi di Pondok Karya memiliki landasan filosofis yang erat dengan kehidupan bertetangga:

  • Tepung Beras dan Kelapa Parut (Warna Putih): Melambangkan kesucian niat, kebersihan hati, dan ketulusan warga untuk saling menjaga satu sama lain.

  • Gula Merah (Isian): Melambangkan energi, kehangatan, dan rasa manis dalam keharmonisan hubungan antarwarga.

  • Bungkus Daun Pisang berbentuk Kerucut: Melambangkan perlindungan yang membingkai perbedaan, sekaligus simbol spiritualitas tumpeng yang mengerucut sebagai tanda syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah tanah tempat mereka berpijak.

Simbol Kerukunan, Kebersamaan, dan Ketentraman

Sejak gelaran pertamanya, Gerebeg Abug diposisikan bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah perekat sosial. Rangkaian acaranya dirancang untuk mencerminkan tiga pilar utama bagi warga Pondok Karya:

  • Kebersamaan: Terwujud sejak sebelum acara dimulai. Proses pembuatan ribuan kue abug dilakukan secara bergotong-royong oleh warga, mulai dari kalangan ibu-ibu, pemuda, hingga tokoh masyarakat.

  • Kerukunan: Menjadi ruang inklusif tanpa memandang latar belakang, suku, atau status sosial. Momen mengarak dan menikmati kue abug bersama menjadi wadah bertemunya warga asli dan warga pendatang untuk saling berbaur.

  • Ketentraman: Melalui doa bersama yang dipanjatkan dalam ritual sedekah bumi ini, warga memohon keselamatan, kelancaran rezeki, serta dijauhkan dari segala marabahaya, sehingga tercipta lingkungan yang damai dan tenteram.

Melalui konsistensi yang dibangun oleh Panitia Kenduri Festival dan partisipasi aktif masyarakat, Gerebeg Abug kini tumbuh sebagai identitas budaya kebanggaan Pondok Karya. Tradisi ini membuktikan bahwa nilai-nilai gotong-royong leluhur tetap bisa hidup subur dan relevan di tengah masyarakat urban modern.

penulis : ABDURRACHMAN | @oman_mainstay